Cincin Terakhir
Karya Amelia Wahyu Pithessa
Tak bisa kubayangkan
jika rasa yang dulu pernah ada,kini kembali lagi setelah sekian lama aku
berusaha untuk melupakannya.Dengan hati yang masih mengganjal,tidak mudah
bagiku untuk kembali menyimpan rasa itu.Dia pergi begitu saja,lalu datang
memberiku harapan dan cinta.Datang disaat aku telah mengubah rasa itu menjadi
kenangan yang ku jaga dengan baik dalam memoriku.Namun disaat itu pula aku
merasa tidak ada yang bisa membuat hidupku jauh lebih berarti,kecuali dengan
cintanya yang begitu besar.
Aku
tahu,tak seharusnya aku memiliki perasaan seperti ini.Mencintai,namun cinta itu
tak berbalas lebih padaku.Rasanya aneh,aku tidak bisa mengartikan perasaan yang
kualami sekarang.Yang kutahu,saat ini hatiku seperti tertusuk oleh duri yang
amat perih dan menyakitkan.Dan tanpa kusadari,aku menangis dalam lamunanku
sendiri.Merasakan dia yang hadir disisiku.
Dan
dia adalah sahabat baikku sejak SMA,Julio namanya.Bagiku,dia bukan hanya
sekedar sahabat,dia adalah segalanya,dia alasanku untuk bahagia dan sedih.Aku
selalu kagum dengan semangat hidup,rendah hatinya,dan rasa sayangnya yang amat
besar untukku.Satu hal lagi,tak pernah aku meragukan ideologinya yang sampai
sekarang menjadi motivasiku dalam menjalani hari-hari yang sulit.Katanya…,nikmati dan jalani saja
hidup ini dengan senyuman.Karena dengan tersenyum,kita bisa lebih mensyukuri
karunia Tuhan yang luar biasa.
Dan
aku yang mengagumi sosok Julio.Rani,panggil saja aku dengan nama itu.Orang bilang,aku
mudah pesimis dan tidak mau mendengarkan
nasihat orang lain,termasuk orang tuaku sendiri.Mawar merah,itu adalah bunga
kesukaanku.Walau berduri,tapi dia memiliki sisi yang bisa membuat orang melihatnya
jatuh hati.Semua bunga memang indah dan menawan,tapi bagiku mawar adalah
lambang cinta dan kasih sayang,dan itulah arti persahabatan kami.Dan orang yang
pertama kali memeriku bunga mawar adalah Julio,tepat di hari ulang
tahunku.Ya,dia memang yang paling tahu tentang sahabatnya ini,karena itulah aku
menyayanginya.Bahkan aku berharap lebih dari itu.
Hari
demi hari kita jalani bersama tanpa hambatan yang berarti.Kebersamaan yang kami
bangun selama ini,selalu memiliki makna didalamnya.Itulah mengapa aku tak ingin
kehilangan sosok Julio.Ahhh…aku tidak tahu,bagaimana jadinya melangkah sendiri
tanpa dia.Rasanya keberanian tidak menghampiriku untuk sekedar membayangkan itu
semua.Kelulusan tinggal menghitung hari,pasti akan ada perpisahan yang
mengundang kebahagiaan,bangga,bahkan air mata pun turut mewarnai setiap
momennya.Apa yang kami lakukan selain gelisah menunggu hasil yang terbaik.Aku
lagi-lagi diambang antara optimis atau pesimis,antara yakin dan tidak yakin.
“Woyy!ngelamun
aja,ntar kesambet baru tau rasa lho.”sapa Julio mengejutkanku dari belakang.
”Ihh,apaan sih loe
yo,ganggu orang aja.Gak ada kerjaan lain apa?”jawabku ketus.”
“Udahlah Ran,kelulusan
itu harusnya disambut dengan gembira dan suka cita.Gak usah terlalu
dipikirin,ntar stress malah nambah masalah.”jelasnya mencoba
menenangkanku,namun sepertinya dia tidak berhasil menghilangkan kegelisahanku yang semakin
menjadi-jadi.
”Yaahh…,malah diem aja
nih anak.Dari tadi gue ngomong sama angin kali ya?”gerutu Julio menyerah.Tapi
nyatanya dia masih belum menyerah juga.
”Nih ya,gue
bilangin.Mau apapun nanti hasilnya,yang penting kita sudah berusaha.Dan gak ada
usaha yang sia-sia,serahin aja semuanya sama Yang Maha Kuasa,nanti Dia yang
akan menentukan takdir kita.”lanjutnya.Dan kali ini aku luluh mendengar
kata-katanya,sambil memandang matanya yang penuh dengan harapan dan
cita-cita,penuh dengan kebahagiaan.Aku merasa perasaanku ini tidak salah.
Alhamdulillah,akhirnya
kelulusan sudah ditangan kami.Semua murid angkatan tahun ini lulus dengan nilai
yang memuaskan,termasuk aku dan Julio.Bahagia yang tak terkira terpancar dari
wajah kami semua,terlebih aku yang sejak awal sangat pesimis dengan
hasilnya.Wisuda kali ini,sangat memberi arti yang dalam bagiku.Kenapa?karena
aku akan mengatakan yang sejujurnya tentang perasaanku pada Julio.Aku berharap
dia juga berpikir yang sama sepertiku.Usai pemotretan,aku perlahan menghampiri
Julio di sudut ruangan yang masih mengenakan baju wisuda dan toganya.Gugup aku
rasakan,bimbang menyerangku secara tiba-tiba,namun kali ini aku harus optimis.
“(menghela
nafas)Julio!”sapaku pelan.
”Hai Ran,gila akhirnya
kita bisa pakai toga juga dan dapat gelar sarjana!”ucapnya girang.
”Loe kenapa sih?lagi
gak enak badan?”lanjut Julio.
”Emmm,enggak yo.Gue mau
ngomong sesuatu sama loe.Selama ini kan kita sahabatan,dan gue sayang banget
sama loe.Tapi gue gak ngerti kenapa rasa sayang itu sekarang berubah jadi rasa
cinta.Gak apa-apa kan kalo gue ngerubah status kita jadi pacar.”kataku penuh
keraguan.Berharap Julio akan menerima keputusanku.Julio mendadak diam tak
mengeluarkan sepatah katapun,mungkin dia terkejut mendengarnya.Dan aku tahu
itu.
”Kenapa sih harus
berubah ran,bukannya selama ini jadi sahabat itu menyenangkan banget ya?”
“Yo,apa
susahnya sih loe tinggal bilang iya loe mau jadi pacar gue.Dan gue bakal jadi
wanita paling bahagia hari ini.Kita udah sama-sama sayang,dan gak salah kan
kalo rasa sayang itu ditambah jadi rasa cinta.Terus masalahnya dimana?
“Ran,gue
gak mau ngerusak persahabatan kita,kalo kita pacaran,setahun dua tahun.Terus
nanti kita berantem,putus,gue kehilangan loe dan loe kehilangan gue.Itu yang
loe mau?”
“Gue
tanggung semua resikonya yo,asalkan loe jadi pacar gue.”
Suasana
seketika hening,Julio lantas meninggalkanku tanpa ada senyuman di wajahnya,tak
ada yang menyangka akan seperti ini akhirnya.Yang ada dalam pikiranku sekarang
adalah Julio sudah menyimpan kebencian dan kecewa yang amat dalam karenaku,dan
bukan inginku mengakhiri persahabatan kami.
Dua
tahun kemudian…
Hari ini adalah hari
yang sangat bersejarah dalam hidupku,setelah dua tahun penantian,akhirnya aku
mendapat gelar Master di fakultas kedokteran.Ini adalah mimpiku yang telah
menjadi nyata,semua harapan dan cita-cita ada di tanganku sekarang.Dan minggu
depan aku akan menjalani praktek yang pertama di salah satu rumah sakit ternama
di Singapura.”Rani,ayo cepat ke ruang tamu,ada teman ibu datang.”kata Ibu
“Iya bu,aku mau
beres-beres kamar dulu.Nanti aku nyusul”
Disaat
aku tengah sibuk membereskan rak buku,tak sengaja aku menemukan sebuah kotak
berukuran cukup besar berwarna merah muda di laci.Ya,aku ingat kotak
itu.Kenanganku bersama Julio masih tersimpan rapih,beberapa tangkai mawar merah menghiasinya.Entah bagaimana
kabar Julio sekarang,sejak saat itu,dia tidak bisa dihubungi.Semua kenangan itu
membuka kembali rasa sesalku tentang semua kebodohanku akan perasaan cinta yang
tak mungkin pernah ada.Tuhan,kenapa engkau ingatkan aku lagi dengan dia.Aku
tidak sanggup jika perasaan itu harus kusimpan lagi untuk kedua kalinya.”Rani!”panggil
ibu membuyarkan lamunanku.Tiba-tiba saja ia sudah berdiri di pintu kamarku.
“Ibu!iya aku ke ruang
tamu sekarang.”
“Telat,teman ibu udah
pulang,kamu sih kelamaan.Oh ya ada kiriman buat kamu,katanya dari
Singapur,kirimannya ibu taruh di meja depan.Belum kamu kesana udah dapat
penggemar aja.”ledek Ibu.
”Singapura?”gumamku
dalam hati.Betapa terkejutnya dan terherannya aku saat melihat seikat mawar
merah,dan sepucuk surat.Dan yang tambah membuatku terkejut,itu semua dari
Julio!
”Rani sahabat gue yang
paling gue sayang,apa kabar?rasanya aneh kalau gue gak bersama loe sedetik aja.Gue
minta maaf,gak seharusnya gue bersikap kayak gitu sama loe.Harusnya gue
sadar,kalo sahabat juga bisa jadi lebih.Dan itu yang membuat gue semakin tahu
arti sayang gue ke loe selama ini.Besok studi gue udah selesai,dan gue akan
pulang bersama cinta gue dan cincin cantik yang akan segera melingkar di jari
manis loe.Dan…gue janji akan ada cincin yang kedua di hari pernikahan kita
nanti.See you my girlfriend”katanya dalam surat.
Ya Tuhan,aku
benar-benar tidak percaya.Orang yang aku harapkan menjadi jodohku sekarang
membalas cintaku dengan begitu besarnya.Julio,dia ingin melamarku!Sekarang hati
ini telah menemukan pelabuhan terakhirnya,dan dunia adalah saksi perjalanan
kisah kami.
Udara segar berayun
kesana kemari memberi kehangatan yang begitu memeluk tubuh ini dengan
eratnya.Matahari pagi menyambut dengan ramahnya di ufuk barat.Rasanya aku ingin
terbang sekarang,karena tak bisa aku mengutarakan kebahagiaan yang kurasakan
bertubi-tubi hari ini.Julio akan pulang dan segera memasangkan cincin tanda
cinta itu,tanda cinta yang ia miliki sejak pertama kita kenal.
“Krrriinnngggg……”tiba-tiba
suara handphone membangunkan aku dari mimpi indah ini.Ternyata itu dari mamanya
Julio
“Halo tante!Julio udah
pulang ya?oke tante aku kesana sekarang
ya!”kataku girang
“Rani!semua sudah
berakhir.Sebaiknya kamu jadikan Julio sebagai kenangan terindah kamu.”ucap
tante membuatku penasaran
“Maksud tante apa?”
“Pesawat yang
ditumpangi Julio mengalami kecelakaan,dan jatuh di laut.Julio menjadi korban
Rani,dia meninggal.”
Hening…
Apa ini Tuhan?kenapa
kau mengambil kebahagiaanku begitu cepat.Sekarang aku harus bagaimana?Hidupku
begitu sempurna karena Julio,dan tiba-tiba sekarang aku harus kehilangan
semuanya.Dengan air mata yang cukup deras membasahi wajahku,aku bergegas pergi
ke rumah Julio.Rasanya aku tidak percaya sahabatku pergi,aku berpikir dia
sedang bermain sandiwara untuk memberiku kejutan.Ternyata tidak!aku benar-benar
kehilangan dia…
“Tante,Julio udah janji
mau kasih aku cincin,dia mau melamar aku kan?”
“Iya ran,ini cincin yang
akan dia kasih ke kamu.”katanya sambil memberikan kotak kecil berisikan cincin
permata yang begitu cantik.
“Tapi tante,ini bukan
cincin terakhir yang dia kasih ke aku kan?Dia juga janji mau kasih aku cincin
yang kedua di hari pernikahan kita nanti.Iya kan tante,ayo jawab!”tangisku
semakin pecah,tak mampu aku membendung semua kesedihan ini.
“Mungkin ini akan jadi
cincin terakhir Rani…”
“JULIOOO……!!!”
~SELESAI~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar